Konsistensi Kebijakan BI  Mengarahkan Ekspektasi Inflasi

Foto : Net

Beritakalteng.com, Jakarta- Upaya memastikan angka inflasi tahun 2019 tetap rendah dan stabil di tengah tantangan gangguan cuaca akibat kemarau panjang yang diperkirakan akan berdampak pada pasokan bahan pangan.

Bank Indonesia (BI) tetap konsisten untuk menjaga stabilitas harga dan memperkuat koordinasi kebijakan dengan Pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah.

Berdasarkan data siaran pers BI, Jum’at 2 Agustus 2019 mencatat, Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) dibulan Agustus 2019 masih dalam kondisi terkendali yakni diangka 0,12 persen.

Angka inflasi dibulan agustus 2019 terjadi penurunan 0,19 persen jika dibandingakan dengan angka inflasi IHK dibulan sebelumnya Juli 2019 sebesar 0,31 persen.

Hal tersebut dipengaruhi inflasi inti yang tetap terkendali dan deflasi kelompok volatile food dan kelompok harga barang/jasa yang diatur pemerintah.

Baca Juga : Diperkirakan Konsumsi Rumah Tangga Kalteng Kedepan Cendrung Menurun

Inflasi inti pada bulan Agustus 2019 tercatat 0,43 persen, dan sedikit lebih tinggi bila dibandingkan dengan angka inflasi inti bulan Juli 2019 sebesar 0,33 persen.

Berdasarkan angka inflasi secara tahunan, tercatat 3,30 persen, dan sedikit mengalami peningkatan bila dibandingkan dengan inflasi inti bulan lalu Agustus 2018 sebesar 3,18 persen.

Harga Emas Global Pengaruhi Angka Inflasi

Direktur Eksekutif BI, Onny Widjanarko menyampaikan, peningkatan angka inflasi tahunan dipengaruhi oleh kenaikan harga emas perhiasan sebesar 3,97 persen (mtm) atau 12,64 persen (yoy).

“sejalan dengan kenaikan harga komoditas emas global, serta kenaikan biaya pendidikan, tarif sewa rumah, dan tarif rumah sakit.” kata Onny.

BI memperkirakan, angka Inflasi di tahun 2019 akan berada di bawah titik tengah. Dengan kisaran sasaran diangka 3,5±1 persen dan terjaga dalam kisaran sasaran diangka 3,0±1 persen di tahun 2020.

“Dengan perkembangan tersebut inflasi IHK Agustus 2019 secara tahunan tercatat 3,49 persen, sedikit lebih tinggi dari angka inflasi bulan sebelumnya sebesar 3,32 persen.” jelasnya menambahkan.

Adapun harga barang lain pada kelompok inflasi inti, masih tercatat dalam kondisi terkendali. Hal ini ujarnya, dikarnakan konsistensi kebijakan BI dalam mengarahkan ekspektasi inflasi, termasuk menjaga pergerakan nilai tukar sesuai fundamentalnya.

“untuk volatile food pada bulan agustus 2019 mengalami deflasi 0,25 persen. Sebaliknya, jika dilihat terjadi penurunan angka pada bulan sebelumnya yang malah mengalami inflasi sebesar 0,89 persen” jelasnya lagi menambahkan.

Baca Juga : BI Luncurkan Aplikasi Pembayaran Elektronik

Baca Juga : Perputaran Uang Juli 2019 di Kalteng Terjadi Peningkatan 

Terjadinya Deflasi pada volatile food disebabkan adanya  penurunan harga komoditas seperti bawang merah, daging ayam ras, bawang putih, dan sayur-sayuran. Sebaliknya untuk komoditas seperti aneka cabai, ikan segar, dan kentang mengalami inflasi.

Apabila dilihat cecara tahunan, inflasi kelompok volatile food sebesar 5,96 persen. Tercatat lebih tinggi jika dilihat dari angka inflasi bulan sebelumnya sebesar 4,90 persen.

Untuk kelompok administered prices atau kelompok harga barang/jasa yang diatur pemerintah, bulan agustus 2019 kembali deflasi yakni sebesar 0,40 persen, seiring dengan penurunan tarif angkutan udara.

“deflasi 0,40 persen di bulan Agustus 2019 tersebut, sedikit lebih dalam jika dibandingkan dengan deflasi bulan sebelumnya yang hanya 0,36 persen.” kata Onny kembali.

Pihaknya mengaku, persoalan tersebut disebabkan adanya koreksi tarif angkutan udara, khususnya maskapai berbiaya murah, sejalan dengan pola musiman penurunan permintaan.

Kalau dilihat secara tahunan, inflasi kelompok administered prices bulan Agustus 2019 sebesar 1,87 persen tercatat lebih rendah jika dibandingkan inflasi pada bulan sebelumnya 2,22 persen.(Aa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: