Dua PBS Merespon Baik Rencana Kerjasama Dengan RSJS Buntok

Foto : KTT PT. MJU, Ariyanto, merespon baik rencana kerjasama pelayanan kesehatan dengan RSJS Buntok.

Beritakalteng.com, BUNTOK – Dua Perusahaan Besar Swasta (PBS) yang beroperasi di wilayah Kabupaten Barito Selatan, PT. Montalat Jaya Utama (MJU) dan PT. Electra Global (EG) merespon baik dan menyatakan minat untuk bekerjasama dengan RSUD Jaraga Sasameh (RSJS) Buntok terkait pelayanan kesehatan dan Medical Check Up (MCU) karyawan mereka.

Hal tersebut disampaikan oleh managemen kedua perusahaan itu, saat dikunjungi oleh awak media, Senin (13/6/2022).

Kepada wartawan, Kepala Teknik Tambang (KTT) PT. MJU, Ariyanto mengutarakan bahwa saat ini managemen perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan batu bara tersebut, memang sudah merencanakan untuk mulai melaksanakan MCU secara reguler bagi karyawan mereka.

“Dalam hal ini, kami (MJU) untuk masalah kesehatan, itu memang sudah kami programkan, yaitu sudah kami cantumkan di Rencana Kerja Anggaran Biaya (RKAB) kami di tahun 2022,” terangnya saat ditemui di kantornya di Desa Bantai Bambure, Kecamatan Dusun Utara, Senin (13/6/2022).

“Artinya di situ kami sudah membuat semacam budget (rencana biaya) yang sudah kami anggarkan, untuk masalah MCU itu tadi,” imbuh dia menambahkan.

Namun, diakui Ariyanto lagi, hingga saat ini managemen memang belum menentukan dengan pihak mana saja akan membangun kerjasama di bidang kesehatan tersebut.

“Hanya saja, memang betul bahwa kami masih terkendala, dimana dan dengan pihak mana sih nanti kerjasama itu dibangun?” akui dia.

“Kalau memang Rumah Sakit Buntok sudah mampu untuk membuka kerjasama dengan kita (MJU), artinya kan lebih bagus. Kita enggak usah jauh-jauh (membangun kerjasama),” sambut baik Ariyanto.

Sementara itu, dijabarkan oleh lulusan Politeknik Muara Teweh tahun 2009 ini, terkait dengan persoalan kerjasama perawatan kesehatan karyawan, untuk saat sekarang pihak perusahaan sudah menjalin kerjasama dengan pelayanan kesehatan yang ada di Barsel, terutama dalam hal BPJS Kesehatan.

Sedikitnya lima puluhan karyawan PT. MJU yang ada saat ini, faskesnya adalah di Puskesmas terdekat dengan wilayah kerja perusahaan yang secara administrasi tersebut seratus persen beroperasi di Barsel.

“Untuk penanganan yang lebih cepat, saya rasa di sini juga kan ada puskesmas. Itu kalau misalnya ada karyawan yang sakit (ringan), di BPJS kesehatan kami itu faskes-nya kita ambil yang terdekat dulu. Baru nanti yang rujukannya adalah Rumah Sakit Buntok,” jelasnya.

“Kalau MCU memang kita mencari fasilitasnya yang sudah memadai dengan standard yang diberlakukan,” tukasnya.

Foto : Senada dengan PT. MJU, managemen PT. EG, HRD Akhmad Riyadi (kiri), Paramedis, Alfianor (tengah) dan Humas Umum, Malala (kanan) mengaku sangat menyambut baik rencana kerjasama dengan RSJS Buntok.

Di tempat berbeda, HRD PT. EG, Akhmad Riyadi juga menyambut baik perihal rencana dan harapan yang diutarakan oleh RSJS.

“Kalau dari saya pribadi, sangat setuju. Karena jarak tempuh dari perusahaan ke Buntok cukup dekat, jadi biaya operasional lebih murah. Tapi secara etika saya harus mengkomunikasikan hal ini kepada direktur selaku pimpinan management. Sebab dialah yang punya wewenang memutuskan kebijakan iya atau tidaknya perusahaan kami bekerjasama dengan RSJS Buntok,” sebutnya di Kantornya di Desa Patas, Kecamatan Gunung Bintang Awai (GBA), Senin (13/6/2022).

Sedangkan untuk masalah perawatan kesehatan selama ini di PT. EG, dijelaskan oleh Riyadi, perusahaan memang belum bekerjasama dengan instansi ataupun fasilitas pelayanan kesehatan manapun. Sebab di lingkungan pemukiman karyawannya, perusahaan sudah menyediakan petugas paramedis sendiri yang siap melayani kesehatan para karyawan.

Menyambung keterangan tersebut, petugas paramedis PT. EG, Alfianor yang sudah beberapa bulan bekerja di perusahaan yang memiliki ratusan tenaga kerja itu, mengaku belum pernah menemukan keluhan karyawan sakit kronis, sehingga belum pernah melakukan rujukan pengobatan dan perawatan kesehatan bagi para karyawan ke pusat pelayanan kesehatan di luar paramedis perusahaan, baik itu puskesmas maupun rumah sakit.

“Jadi selama kami tiga bulan (tugas) di sini, keluhan penyakitnya cuma yang ringan-ringan saja. Misal kaya kecapekan, sakit kepala, meriang dan gatal-gatal, mungkin karena air dan cuaca di sini yang kadang panas dan kadang dingin. Tapi untuk penyakit kronis, belum ada ditemukan,” jabarkan Alfianor.

“Kalau tanggapan kami (sebagai paramedis), kalau memang ada kerjasama dengan rumah sakit itu malah lebih bagus. Seandainya ada apa-apa dengan pegawai perusahaan kan, bisa kami rujuk (ke rumah sakit), apalagi lokasinya di Buntok,” ucapnya menambahkan.

Ditimpali oleh Humas Umum PT. EG, Malala, sebagai penduduk asli Barsel, dirinya mengaku sependapat dengan Akhmad Riyadi dan Alfianor, terkait ketertarikan dan minat untuk membangun kerjasama dengan RSJS dalam hal pelayanan kesehatan.

Sebab menurut dia, selain sangat menguntungkan perusahaan dari segi pembiayaan dan waktu tempuh, kerjasama ini juga dapat memberikan keuntungan bagi daerah dari sisi peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui Badan Layanan Umum Daerah (BLUD).

“Karena mengingat jarak tempuhnya dekat. Kerjasama di bidang medis itu sangat kami harapkan. Kami sebagai humas umum PT. Electra Global sekaligus penduduk lokal di tempat ini, sangat berharap untuk bisa (rencana) ini dilanjutkan dengan baik. Agar terwujudnya kerjasama dan keharmonisan yang baik diantara perusahaan, rumah sakit Buntok dan pemerintah daerah setempat,” pungkas dia berharap.

Pada hari yang sama, awak media juga telah mendatangi sejumlah perusahaan lainnya, yakni PT. Palopo Indah Raya (PIR) dan managemen PT. Riung Mitra Lestari (RML), namun dikarenakan pimpinan managemen kedua perusahaan tersebut sedang di luar daerah, sehingga belum ada tanggapan apapun mengenai masalah ini.

Sebelumnya, pihak RSJS Buntok berharap agar semua PBS yang beroperasi di wilayah Kabupaten Barito Selatan, bisa menjalin kerjasama dengan pihaknya.

Harapan tersebut disampaikan oleh Direktur RSJS, dr. Norman Wahyu saat ditemui oleh awak media di Kantornya, Rabu (8/6/2022).

Menurut dia, selama ini daerah bersemboyan Dahani Dahanai Tuntung Tulus itu mengalami kehilangan potensi PAD hingga milyaran rupiah setiap tahunnya, diakibatkan banyaknya PBS yang beroperasi di wilayah tersebut menjalin kerjasama dengan RS yang berada di daerah lain di luar Barsel.

“Coba bayangkan saja kalau sekali Medical Check Up (MCU) setiap Perusahaan mengirimkan setidaknya 500 orang karyawan, dikalikan Rp750 ribu per orang sekali MCU yang dilaksanakan per enam bulan sekali, berapa milyar rupiah kita bisa dapat per tahunnya,” ucapnya.

“Itu belum lagi pendapatan kalau kita juga bisa menjalin kerjasama dengan PBS dalam hal perawatan karyawan mereka yang sakit. Bisa bangun apa saja kita di RSJS ini,” sambung Wahyu.

Meskipun diakui oleh Wahyu lagi, memang selama ini PBS lebih memilih bekerjasama dengan RS yang ada di daerah lain seperti Banjarmasin, Kalimantan Selatan dan Muara Teweh, Kabupaten Barito Utara, dikarenakan fasilitas yang mereka miliki lebih baik dan lebih lengkap.

Namun saat ini, tegas Wahyu, RSJS sudah dalam kondisi siap melaksanakan kerjasama dengan semua PBS yang ada, dikarenakan selain empat spesialis besar, yakni bedah dalam, anak, kandungan, mata, patoli klinik, kini di RSJS juga telah melakukan penambahan beberapa fasilitas baru dan beberapa spesialis seperti jantung, paru, kulit dan kelamin, serta THT.

“Kita harapkan semua masyarakat Barsel umumnya dan khususnya PBS yang ada di Barsel tidak perlu lagi jauh-jauh ke daerah lain jika memang tidak perlu harus dirujuk,” tukasnya.

“Dan juga kita akan membenahi semua fasilitas kita yang ada ini, agar nantinya semua perusahaan – perusahaan yang ada bisa bekerjasama dengan kita,” harapnya.

Menanggapi hal ini, Ketua Komisi III DPRD Barsel, Hermanes juga telah berencana akan melakukan kunjungan ke sejumlah perusahaan – perusahaan yang berinvestasi di Bumi Dahani Dahanai Tuntung Tulus ini.

Dengan tujuan berkoordinasi untuk mendorong pihak perusahaan nantinya bisa membangun kerjasama melakukan MCU atau pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh bagi karyawannya di RSJS Buntok.

“Koordinasi ini penting dilakukan dalam upaya meningkatkan PAD bagi Barsel melalui pemeriksaan kesehatan karyawan perusahaan,” pungkas dia.(Sebastian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: