Tekan Penyakit Difteri Melalui Imunisasi Lengkap

BeritaKalteng, PALANGKA RAYA- kesadaran masyarakat khsusunya orang tua untuk terus memberikan ataupun imunasi rutin terhadap anaknya melalui program-program kesehatan yang sudah diberikan oleh Pemerintah Daerah, sangat penting dilakukan.

Selain memberikan kesehatan bagi tubuh dari anak itu sendiri. Imunisasi juga sangat penting dalam melindungi anak dari berbagai serangan penyakit yang disebabkan oleh kuman atau bakteri tertentu.

Seperti kejadian beberapa bulan lalu, dimana menurut infromasi dari sejumlah media nasional, dari data yang dihimpun oleh Kementrian Kesehatan RI, tercatat ada sekitar 92 Kabupaten/Kota di 20 Provinsi di Indonesia melaporkan kasus Difteri (penyakit menular akibat kuman Corynebacterium Diptheriae.red).

Kondisi tersebut diduga kengganan orangtua memberikan imunisasi pada anaknya. Belum lagi dijaman sekarang orangtua tidak hanya di Provinsi lain, tapi di Kalteng sendiri, kesadaran untuk memberikan imunisasi kepada anaknya masih dinilai rendah.

Hal inilah yang disampaikan oleh Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Provinsi Kalteng, Endang Sri Lestari Narang, menghimbau kepada orangtua untuk melakukan imunisasi lengkap kepada anaknya.

“Sampai dia anak sekolah, ga bayar gratis. Tinggal kemauan orangtua anak aja lagi.” jelas Endang Sri Lestari Narang ketika diwawancarai media di ruang kerjanya senin (18/12)

Dia juga menginformasikan, berdasarkan informasi yang dihimpun Dinas Kesehatan Provinsi Kalteng sejak tahun 2014 sampai tahun 2017 sekarang. Dengan rincian, ditahun 2014 telah terjadi kasus meninggal dunia karena Difteri diluar Kota Palangka Raya.

Kemudian ditahun 2015, kasus Difteri tidak ditemukan, lanjut 2016 terjadi lagi kasus meninggal dunia sebanyak 2 orang. 1 orang di Kabupaten Kapuas, dan 1 orang di Kabupaten Pulang Pisau. Lanjut ditahun 2017 dibulan agustus di Kota Palangka Raya ada indikasi terjadi 1 kasus, namun ketika ditangani dan hasil Lab. tidak mengarah kepada penyakit Difteri.

“Untuk tahun 2017 dari bulan Januari sampai dengan sekarang ini tidak ada peningkatan. Kenapa ada sampai meninggal!. Informasi dilapangan, ada dikarnakan lambat penanganan, dan dibawa kerumah sakit sudah dalam kondisi koronis dan anak yang bersangkutan tidak mampu lagi menerima pengobatan” ujarnya menambahkan.

Dia menyampaikan kembali, korban Difteri sendiri lebih sering terjadi pada anak-anak di usia belita. Dirinya juga mengaku data kasus Difteri di Kalteng sendiri sangat minim terjadi. Hal tersebut dikarnakan upaya yang dilakukan baik dalam hal pencegahan maupun penanganan cepat oleh Pemerintah Daerah Provinsi Kalteng terus gencar dilakukan.

Endang juga mengaku, ketika isu Difteri menyebar sampai pada tingkat Nasional. Masyarakat Kalteng banyak melaporkan hal-hal kejadian yang menyerupai penyakit Difteri. Seperti penyakit Ispa, Bronkitis, atau Pharingitis. Sementara yang sering dilaporkan adalah penyakit Pharingitis (amandel yang bengkak.red).

Sedang bakteri Difteri lebih menyerang kepada selaput membran sehingga mengganggu pernapasan. Terus penyebab badan panas berkelanjutan, karena sudah terinveksi bakteri. Dirinya mengaku kasus meninggal akibat Difteri sendiri dikarnakan kondisi tubuh balita kurus, dan juga tidak di imunisasi lengkap.

“Sebenarnya imunisasi kita lengkap lo. Lima kali. Vacc DPT pada usia 2,3,4 bulan dan imunisasi lanjutan pada saat masuk sekolah SD kelas II dan III, dan dilanjutkan dengan SD kelas V. Ketika ditanya, orang tua mengatakan sudah lengkap imunisasi. tapi nyatanya, kebanyakan imunisasi lanjutan tidak dilakukan, faktornya lupa.” jelasnya menambahkan.

Imunisasi sebelumnya mencegah penyakit DPT (Difteri, Partusis, dan Tetanus.red), ditahun 2017 ditambah lagi penyakit yang bisa dicegah yakni hema virus Invuliensa. Namun tragisnya imunisasi lanjutan tidak dilakukan oleh sejumlah masyarakat.

“Kalau ada anak mengalami klinis Difteri segera ke Puskesmas. Dipuskemas hasilnya Difteri atau dicuriga Difteri, langsung ditangani oleh Provinsi, dan si pasien akan tetap ditangani. Ketika positif kita berikan vaksin ADS (Anti Diphteri Serum.red) dan ini gratis kita berikan, dan ADS tidak dijual bebas. Kalaupun ada mahal Rp.1,5 Juta.” katanya menambahkan.

Ie menambahkan, pencegahan terhadap Difteri hanya satu yakni melakukan imunisasi lengkap. Dan setiap bulan permintaan vaksi dari setiap Kabupaten/Kota sudah dikirim kemasing-masing Daerah. Dan tahun 2018 akan mengkampayekan mulai dati Hepatitis sampai dengan campak.(Aa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: