Kalimat ‘Waspada Virus Corona’ Akhiri Isu Baliho Kontroversi

FOTO : Sempat menuai kontroversi, kini materi baliho tentang Covid-19 di kawasan Bundaran Burung Kota Palangka Raya sudah diganti, Rabu (1/9/2021).

BERITAKALTENG.com – PALANGKA RAYA – Komentar negatif tentang penggunaan bahasa luar daerah pada baliho Covid-19 di Bundaran Burung Kota Palangka Raya langsung direspon Polda Kalimantan Tengah.

Baliho yang awalnya bertuliskan kalimat ‘Gasan Nang Babal Wan Corona, Kaini Pang Jadinya. Mati Sia-Sia !! Hanyar Tau Rasa !!’ kini telah diganti menjadi ‘Waspada Virus Corona’. Pada pojok kanan papan reklame itu juga dilengkapi dengan imbauan 5 M, yaitu Mencuci Tangan, Memakai Masker, Menjaga Jarak, Menjauhi Kerumunan dan Mengurangi mobilitas.

Perubahan baliho yang sempat kontroversi tersebut langsung diinformasikan Kabid Humas Polda Kalteng, Kombes Pol Kismanto Eko Saputro kepada wartawan pada Rabu (1/9/2021) petang.

Perubahan materi baliho itu sendiri, sejalan dengan statemen Kismanto Eko Saputro pada pemberitaan kaltengnews.co.id berjudul ‘Tanggapi Permintaan Masyarakat, Baliho Kontoversi Bakal Segera Diganti’ tanggal 1 September 2021 pagi.

Sebelumnya, Kabid Humas Polda Kalteng, Kombes Pol Kismanto Eko Saputro menanggapi kritikan ‘bahasa’ yang digunakan pada papan reklame atau baliho Covid-19 di kawasan Bundaran Burung Kota Palangka Raya.

“Terima kasih informasinya mas. Sudah saya sampaikan, nanti akan diganti balihonya. Terima kasih ya,” ujarnya melalui pesan singkat kepada wartawan, Rabu (1/9/2021).

Sebelumnya pada 4 Agustus 2021 unggahan facebook dengan nama akun Adinata mengkritisi penggunaan bahasa daerah lain pada papan reklame tersebut.

Dalam keterangan fotonya, Adinata menuliskan bahwa ‘Mohon maaf sebelumnya, tidak ada maksud menyinggung saudara2 warga Kalsel atau pemasang iklan. Hanya ada sedikit merasa kurang pas dengan tulisan baliho imbauan pencegahan Covid-19 menggunakan bahasa Banjar, sementara ini di Kalteng’.

Kemudian tulisan pada paragraf selanjutnya, yaitu : ‘Cuma saran saja, alangkah baiknya bila pakai bahasa Indonesia atau bahasa Dayak masyarakat Kalteng mungkin lebih cocok. Salam Sehat’.

Unggahan foto baliho beserta keterangannya tersebut kemudian ramai diperbincangkan, bukan saja warganet namun juga oleh sejumlah organisasi dan tokoh Dayak. (tu/sog)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: