Pasien Covid-19 Minta Pulang, GTPPC-19 Barsel Tegaskan Tetap Sesuai SOP

Minta Pulang : Kondisi keempat pasien Covid-19 dalam perawatan RSJS Buntok yang meminta dipulangkan meskipun belum dinyatakan sembuh.

Beritakalteng.com, BUNTOK – Lantaran merasa sehat dan kelelahan diisolasi, empat orang pasien terkonfirmasi positif virus Corona (Covid-19) yang tengah dirawat di RSUD Jaraga Sasameh (RSJS) Buntok, Kabupaten Barito Selatan, minta pulang dan dikarantina mandiri di rumah masing-masing.

Dunia kesehatan Barsel digegerkan adanya video pernyataan salah satu pasien Covid-19 berinisial YC, yang beredar di grup-grup sosial media, Senin (8/6/2020).

Dalam video yang diketahui dibuat pada hari Sabtu (6/6/2020) berdurasi sekitar 6 menit 51 detik itu, YC menunjukkan sebuah situasi dimana tampak ada tiga orang pasien berjenis kelamin perempuan yang tengah berbaring di ranjang perawatan orang sakit. Dalam keterangannya di video tersebut, YC yang mengaku sebagai pasien Covid-19 itu, mengatakan bahwa ruangan tersebut merupakan ruang isolasi pasien Covid-19 di RSJS Buntok.

Dengan penayangan tersebut, YC ingin menyampaikan situasi sebenarnya dari kondisi perawatan pasien Sars Cov 2 tersebut di RSJS.

Dalam pernyataannya YC meminta agar pihak rumah sakit dan pemerintah daerah yang dalam hal ini adalah Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 (GTPPC-19) Barsel, untuk segera mengeluarkan mereka dari ruang isolasi tersebut.

Selain karena merasa sehat-sehat saja, YC juga menuding bahwa selama ini ia dan teman-temannya sesama pasien Covid-19 itu, dibohongi oleh pihak RSJS terkait positifnya mereka mengidap wabah yang pertama kali menyebar di provinsi Wuhan, Tiongkok itu.

Pasalnya, kata dia, selama ini pihak RSJS tidak pernah transparan dalam menunjukkan hasil pemeriksaan laboratorium kepada mereka.

“Karena ada beberapa info yang juga sangat membingungkan, karena ada yang bilang hasilnya (pemeriksaan laboratoriumnya) ditunggu dari Jakarta, ada yang bilang dari Palangka Raya, tapi nyatanya secara tertulis sampai hari ini, kami tidak ada memegang itu hasil dari tes swab kami,” ungkapnya.

Sebab, sampaikan YC lagi, baik dirinya maupun pasien lainnya sudah cukup lama dirawat di tempat tersebut, bahkan ada yang mencapai 47 hari lamanya dan telah menjalani empat kali tes swab. Sementara itu, selain salah satu pasien berinisial S yang sudah dipindahkan keruangan tersendiri oleh pihak RSJS, ada salah satu pasien lainnya yang pada swab ketiga sempat dinyatakan negatif, tapi karena pada swab keempat dinyatakan positif, akhirnya pasien itu dikembalikan lagi keruangan isolasi tersebut.

Kemudian ia juga menuding, bahwa pelayanan RSJS terhadap pasien Covid-19 sangat tidak layak. Pasalnya, dirinya merasa selama perawatan, pihak RSJS tidak memenuhi haknya sebagaimana mestinya.

Untuk menguatkan argumennya tersebut, YC kemudian kembali membuat video pernyataan serupa pada hari Senin (9/6/20202).

Sementara itu, narasi lainnya terkait keluhan empat pasien tersebut juga diutarakan oleh seorang aktivis bernama Guntual Laremba.

Dalam pernyataannya, Guntual, bahkan menuding bahwa pihak RSJS mencari keuntungan dari penetapan pasien positif Covid-19 itu.

“Rumah Sakit ingin meraih keuntungan besar dari dana Pandemi, Masyarakat dijadikan tumbal, orang sehat dipaksa sakit melalui alat tes yang abal abal dengan hasil dirahasiakan, orang sehat dipaksa rawat inab, tim satgas digunakan untuk menjadi pembenar, UU dijadikan stempel, petugas lapangan dijadikan alat memuluskan permainannya,” tulis Guntual, kepada awak media, Selasa (9/6/2020) via pesan whatsapp.

Sebelumnya, ia juga menuliskan sebuah permohonan kepada pihak Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 (GTPPC-19) Barsel untuk membiarkan keempat pasien positif covid-19 itu dan melakukan karantina mandiri di rumah masing-masing, sebab sebutnya tindakan mengisolasi para pasien tersebut sama dengan penyanderaan.

“Dengan Hormat atasnama mahkamah kebenaran, demi kemanusiaan, sekali lagi kami mohon untuk dikabulkan permohonan kami mengajukan Karantina Mandiri terhadap empat orang yang sedang kami perjuangkan, karena mereka sudah sangat tertekan dan bisa setress, kalau hal ini terjadi maka bukan penyembuhan yang akan diperoleh tapi kematian, kehilangan nyawa manusia,” pinta Guntual.

Sementara itu, pihak GTPPC-19 Barsel melalui juru bicara, dr. Djulita Kurniadia Palar, saat ditemui seusai pelaksanaan rapat dengar pendapat (RDP) dengan DPRD, Selasa (9/6/2020), menegaskan akan tetap mengikuti protokol kesehatan penanganan Covid-19, yakni akan tetap mengisolasi keempat pasien hingga benar-benar dinyatakan sembuh berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium.

“Kami akan tetap mengisolasi keempatnya, karena sesuai SOP minimal dua kali negatif hasil swab, barulah pasien tersebut bisa dinyatakan sembuh dan dipulangkan,” tegas pria yang juga menjabat sebagai Kepala Dinas Kesehatan Barsel itu.

Kemudian, ia juga menyampaikan bahwa selama ini, penetapan pasien positif Covid-19 yang dilakukan oleh pihak medis, adalah sudah sesuai dengan protokol yang ditetapkan oleh pemerintah.

“Intinya bahwa Tim Gugus Tugas dalam hal ini Tim Kesehatan yang menangani ODP, PDP dan Pasien terkonfirmasi positif Covid-19 selalu mengikuti protap atau SOP yang berlaku yang dikeluarkan oleh Kemenkes RI, baik itu pemeriksaan, penanganan dan perawatan pasien,” jelasnya.

Untuk itu, ia meminta kepada seluruh warga Barsel khususnya, agar tidak terprovokasi atas tudingan-tudingan serta isu yang berkembang, terkait penanganan pasien Covid-19 di Barsel.

“Kita minta kepada masyarakat agar tidak terprovokasi dengan semua isu yang belum tentu kebenarannya semacam itu. Karena selama ini, kita di gugus tugas sudah menjalankan semua sesuai SOP dan selalu berkoordinasi dalam memutuskan segala sesuatunya,” imbau Djul.

Senada dengan Djul, Direktur RSJS Buntok, dr. Leonardus P. Lubis, menjelaskan, bahwa apa yang ditudingkan oleh pasien YC dan Guntual Laremba, itu tidak benar.

Pasalnya, diceritakan Leo, kronologis sebenarnya adalah pasien YC sebelumnya datang sendiri ke RSJS minta diperiksa terkait dengan adanya keluhan sakit perut serta sesak pada pernafasan.

Dari pemeriksaan awal, YC menunjukan gejala terinfeksi virus yang diyakini berasal dari kelelewar tersebut, akhirnya tenaga medis yang merawat bersangkutan memutuskan untuk melakukan rapid test terhadap pasien ini.

“Jadi awalnya itu, YC ini datang ke RS sendiri dengan keluhan perut tidak enak, sesak dan demam. Setelah diperiksa laboratorium, ternyata dia kita curigai dia ada (gejala) terkait dengan Covid-19. Nah setelah itu kita rapid test, ternyata positif, makanya kita tetapkan sebagai PDP” ceritanya.

“Kemudian kita tangani sesuai dengan protokol penanganan Covid-19, kita isolasi. Ketika kita swab, ternyata hasilnya positif,” beber Leo menambahkan.

Sementara itu, Humas RSJS, Noor Halidah, menjelaskan bahwa selama ini apa yang ditudingkan oleh YC dan Guntual Laremba, adalah tidak benar.

Sebab, berdasarkan data yang mereka miliki, penetapan keempat pasien bahkan lima orang dengan salah satu pasien lainnya, yakni S, yang telah dinyatakan negatif pada swab keempat, adalah benar-benar merupakan hasil pemeriksaan hasil swab di laboratorium mikrobiologi Palangka Raya.

Diterangkannya, bahwa hasil swab tersebut dikirimkan oleh pihak laboratorium mikrobiologi Palangka Raya melalui pesan whatsapp kepada pihak RSJS dalam bentuk file PDF, yang di dalamnya menerangkan hasil pemeriksaan itu secara komulatif seluruh pasien, dan dokumen tersebut sudah ditanda tangani oleh dokter pemeriksa, dokter pengawas serta diketahui dan disetujui oleh kepala laboratorium.

“Jadi kami tidak mengada-mengada menetapkan orang positif Covid-19, buat apa kami kok mau-maunya berlama-lama merawat orang yang tidak sakit?” tampik Halidah.

Lanjutnya, untuk rentang waktu mengetahui hasil pemeriksaan sendiri, karena saat ini pemeriksaan hasil swab di laboratorium mikrobiologi di Kota Palangka Raya, maka hanya memerlukan waktu sekitar lima sampai enam hari sudah diketahui hasilnya.

“Tapi itu tergantung antrean, paling lama lima sampai enam hari sudah keluar hasilnya. Kalau dulu sebelum ini, kita masih pakai (laboratorium) di Jakarta atau Surabaya, bisa sampai sepuluh hari baru bisa tahu hasilnya,” ungkap Halidah.

Sedangkan terkait dengan adanya informasi bahwa RSJS tidak melayani sesuai standar, Halidah mejelaskan, bahwa selama ini pihaknya sudah memenuhi standar pelayanan sesuai dengan SOP penanganan Covid-19. Bahkan berdasarkan data yang ditunjukan, diketahui bahwa RSJS selalu memberikan makan pasien tiga kali sehari, dengan standar diet rekomendasi dari ahli gizi yang ada di RSJS.

Selain itu, suplemen dan ekstra puding pun diakui Halidah, tidak pernah tidak diberikan kepada pasien positif maupun yang masih berstatus PDP.

Kemudian, pelayanan kebersihan ruangan dan tempat tidur pasien, juga diyakini oleh Halidah tidak pernah luput dari pantauan para petugas medis yang melayani ruang isolasi.

“Kami tidak pernah tidak memberikan ekstra puding kepada pasien, meskipun bentuknya tidak selalu buah dan susu. Mereka pikir telur itu apa, bukan ekstra puding?” sebutnya.

“Suplemen, obat, bahkan makanan itu selalu kami berikan sesuai dengan resep dokter, tapi kadang-kadang ada saja pasien yang tidak mau memakan makanan yang disediakan oleh kami, bahkan obatpun ada diantara pasien itu yang tidak mau meminumnya, bagaimana mau sembuh kalau seperti itu. Padahal apa yang kami berikan itu, kan sudah sesuai dengan resep dokter dan ahli gizi, supaya mereka cepat sembuh,” sesalnya.

“Intinya begini, setidaknya dalam satu hari ada empat sampai lima kali kunjungan oleh perawat maupun dokter kedalam ruangan isolasi itu, karena selama 24 jam ada tiga perawat aplusan yang selalu melayani disitu, kemudian dokter setiap harinya satu atau dua orang yang melayani kesitu, itu di luar kalau ada kasus urgen ya. Pelayanan mereka itu termasuk membersihkan ruangan, jadi tidak mungkin kalau ada yang kotor dan tidak layak, luput dari pantauan mereka,” tambahnya.

Ia kemudian meyakini, bahwa faktor lambatnya sembuh para pasien tersebut, dikarenakan ketidak disiplinan para pasien itu sendiri.

Halidah kemudian mencontohkan, bahwa selama ini berdasarkan hasil pantauan pihaknya, pasien-pasien tersebut, tidak mematuhi aturan menjaga jarak satu sama lain, mereka juga terkadang ditemukan tiduran di lantai, penggunaan masker yang tidak sesuai dengan standar pemakaian, serta ada beberapa lagi diantaranya yang seringkali memakan makanan yang diantar dari luar, bukan makanan yang diberikan oleh RS, bahkan ada juga yang tidak disiplin meminum obat dan vitamin yang diberikan.

“Padahal kan yang menentukan cepat atau lambatnya sembuh seseorang dari penyakit, terutama Covid-19 ini, adalah kedisiplinan, kalau sudah begitu bagaiamana mau cepat sembuh,” imbuh Halidah.

“Selain itu, respon dan imunitas tubuh orang kan beda-beda, jadi faktor penentu cepat atau lambatnya seseorang sembuh dari suatu penyakit, contoh saja Walikota Palangka Raya dan Sekda Kota, padahal yang duluan terjangkit adalah Sekda tapi yang sembuh duluan adalah Walikotanya kan,” tuturnya mencontohkan.

Sebelumnya, Wakil Bupati Barsel, sekaligus wakil ketua GTPPC-19 Satya Titiek Atyani Djoedir, juga telah menegaskan, bahwa kelima pasien positif Covid-19, akan tetap diisolasi di RSJS sampai dinyatakan benar-benar negatif berdasarkan hasil pemeriksaan swab sesuai protap, yakni dua kali berturut-turut.

Keputusan ini, dikatakan Aty, berdasarkan hasil rapat seluruh tim GTPPC-19 Barsel, guna menghindari adanya kemungkinan penyebaran Covid-19 yang lebih luas di Bumi Batuh itu.

Pasalnya, sebut Aty lagi, dengan membiarkan para pasien tersebut menjalani isolasi mandiri di luar RS, tidak ada jaminan bahwa mereka bisa mematuhi protokol yang sudah ada.

“Kami memutuskan agar RSJS tetap mematuhi protokol kesehatan,” tegasnya.

Sementara itu, berkaitan dengan adanya tudingan bahwa penetapan pasien positif Covid-19 adalah untuk mencari keuntungan, sudah terbantahkan dengan adanya laporan pihak Dinkes dan RSJs dalam rapat dengar pendapat (RDP) bersama Komisi III DPRD Barsel.

Dari total hampir Rp 8 miliar lebih anggaran refocusing khusus penanganan Covid-19 di Dinkes dan RSJS, baru terserap sebesar Rp 900 juta saja, atau sekitar 18 persen dari seluruh jumlah anggaran.

Itupun, sebagaimana disampaikan oleh Kepala Dinkes Barsel, dr. Djulita Kurniadia Palar, dana yang terpakai adalah untuk pembelian alat pelindung diri (APD), obat-obatan, rapid test dan penanganan lainnya.

“Jangankan untuk hal lain, sampai saat ini, para tenaga medis kami insntifnya belum terbayarkan sepeserpun di tahap kedua ini,” ungkap Djul.(Sebastian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: