Penerapan PPDB Sistem Zonasi Dinilai Belum Tepat

HADIRI : Anggota Komisi III DPRD Kabupaten Kotim Badriansyah saat mengikuti rapat paripurna.

 

BERITAKALTENG,comSAMPIT – Memasuki pertengahan tahun 2022 tidak lama lagi sekolah akan kembali membuka Pener­imaan Peserta Didik Baru (PPDB), DPRD Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menyoroti PPDB sistem zonasi, yang kini masih terjadi ditengah masyarakat, dan dengan sistem zonasi juga membuat mas­yarakat harap-harap cemas.

Anggota Komisi III DPRD Ka­bupaten Kotim, Badriansyah men­gatakan penerapan sistem zonasi pada PPDB belum tepat digunakan di Kabupaten yang berjuluk Bumi Hambaring Hurung ini, karena jumlah dan sebaran sekolah masih belum merata. Sehingga tidak heran anak-anak ingin menem­puh pendidikan di sekolah yang fasilitasnya lengkap. Terutama di sekolah negeri, meski letaknya jauh dari rumah.

“Sistem zonasi ini belum pas untuk kabupaten ini, Selain sekolah negeri yang belum merata, hal ini juga memberikan dampak psikol­ogis kepada anak didik. Yaitu secara tidak langsung menurunkan se­mangat belajar anak, terutama yang satu kawasan dengan sekolah,” kata Bardiansyah, Kamis (2/6/2022).

Dirinya mengatakan diketa­hui bersama saat ini Kabupaten Kotim tengah memasuki tahapan PPDB yang terbagi menjadi empat jalur. Yakni jalur zonasi, prestasi, afirmasi dan pindah tugas orang tua. Tidak jarang calon peserta didik dinyatakan tidak lolos seleksi PPDB lantaran jarak rumah den­gan sekolah melewati batas jarak yang sudah ditetapkan.

”Terkait zonasi, bagaimanapun tetap sekolah yang dikatakan favorit yang menjadi serbuan calon siswa. Ini menandakan bahwa kualitas dan infrastruktur sekolah tetap menjadi magnet tersendiri bagi calon siswa,” kata Bardiansyah.

Politisi Partai PDI Perjuangan ini berharap, karena sistem zona­si sudah terlanjur diterapkan di Kabupaten Kotim, agar sebaran sekolah khususnya yang negeri segera merata yang diiringi dengan peningkatan kualitas serta sarana dan prasarana sekolah

“Sarana dan prasarana ini no­tabenenya menjadi persoalan utama yang seharusnya mendapatkan perhatian lebih. Ini sudah persoalan sejak lama. Bahkan masih banyak sekolah di Kotim yang kekurangan fasilitas penunjang pembelajaran,”pungkasnya. (agg/ang)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: