Kelompok 25 KKN UPR Soroti Tingginya Kasus Stunting di Gumas

Foto : Bersama petugas kesehatan dan bidang dari kecamatan Kurun, kelompok 25 KKN-T UPR melaksanakan sosialisasi stunting di desa Tumbang Manyangan, Kecamatan Kurun, Gumas.

Beritakalteng.com, KUALA KURUN- Masih terbilang sangat tinggi, pencegahan dan penanggulangan Stunting di Kabupaten Gunung Mas (Gumas) menjadi salah satu fokus program kerja kelompok 25 KKN Tematik khusus Kebangsaan Universitas Palangka Raya (UPR).

Menyoroti hal tersebut, kelompok 25 KKN-T UPR kemudian berusaha membantu pemerintah, dengan melaksanakan sosialisasi pencegahan dan penanggulangan Stunting di desa sasaran KKN, yakni di Desa Tumbang Manyangan, Kecamatan Kurun, Kabupaten Gumas.

Kelompok 25 KKN UPR yang terdiri dari Jian Fabiano, Ade Mahendra Tarigan, Ahmad Zaini, Aprilyana,  Devi Septin Indriani, Jodi Rodi Uli Arta Sinaga, Patrizia Vanaya Citara, Shelina Aprilia Paskarani, Silvia Sendyani Prabowo, Sisbianto Ofratio, Tresia Novita Sari, Veronica Febrianti, Widia Wulandari dan Yulianti Respati ini, melaksanakan sosialisasi pada Jumat (26/8/2022).

“Salah satu program kerja yang dilaksanakan pada kegiatan Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Universitas Palangka Raya di Desa Tumbang Manyangan adalah dengan membantu mengedukasi masyarakat dalam pencegahan dan penanggulangan stunting. Selain itu, kami juga melakukan pembagian makanan tambahan bergizi dan vitamin,” terang Jian Fabiano selaku ketua kelompok. 

Selanjutnya, Jian mengatakan, bahwa kegiatan ini bertujuan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat, terutama ibu hamil dan menyusui, tentang betapa pentingnya pencegahan Stunting.

Sebagaimana pernah diutarakan oleh Drs. Eli Kusnaeli, MM.Pd, dalam artikel berjudul Susiani, pada tahun 2021, “stunting adalah badai nasional yang saat ini sedang kita hadapi. Stunting merupakan permasalahan yang cukup serius karena masyarakat di pedesaan masih banyak yang belum memahami mengenai stunting,”

Sehingga dalam upaya penanggulangan stunting pada anak balita, Pemerintah telah memiliki landasan kebijakan program pangan dan gizi yang harapannya dengan terjaminnya ketersediaan pangan yang meliputi produksi, pengolahan, distribusi, dan konsumsi pangan dengan kandungan gizi yang cukup diharapkan dapat menurunkan prevalensi kekurangan gizi pada daerah dengan prevalensi stunting tinggi di Indonesia.

Foto : Bersama petugas kesehatan dan bidang dari kecamatan Kurun, kelompok 25 KKN-T UPR melaksanakan sosialisasi stunting di desa Tumbang Manyangan, Kecamatan Kurun, Gumas.

Pada tahun 2018 di Gumas sendiri tercatat data stunting sebesar 38,2 persen, pada tahun 2019 menurut SUSENAS dan SGBI terjadi penurunan menjadi 32,83 persen, dan pada tahun 2020 per Oktober menurut aplikasi e-PPGBM Kemenkes RI yaitu 22,11 persen (Riskesdas, 2018).

“Angka ini masih lebih tinggi bila dibandingkan dengan toleransi maksimal stunting yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yaitu kurang dari 20 persen. Sehingga mulai dari tahun 2020, Kabupaten Gumas ditetapkan menjadi lokus penanganan stunting, dimana sesuai target nasional dan RPJMD ditahun 2024, angka stunting ditargetkan mampu ditekan di bawah 20 persen,” beber dia.

Dijelaskannya, Desa Tumbang Manyangan terletak di Kecamatan Kurun, Kabupaten Gumas dan berpenduduk sebanyak kurang lebih 500 jiwa tersebut, memiliki jarak perjalanan yang cukup jauh dari Kota Palangka Raya yaitu membutuhkan waktu tempuh kurang lebih 5 jam.

Susahnya akses jalan menuju Desa Tumbang Manyangan inilah, menurut kelompok 25 KKN UPR merupakan salah satu kendala yang membuat masyarakat desa ini susah mendapatkan sumber daya pangan yang sehat dan bergizi serta kurangnya akses air bersih dan sanitasi.

Sosialisasi pencegahan stunting ini diikuti oleh hampir seluruh masyarakat Desa Tumbang Manyangan terkhusus pada ibu hamil dan anak-anak balita yang berjumlah 30 orang. Sebelum melaksanakan sosialisasi lebih dulu dilakukan imunisasi bayi, pengukuran antropometri balita dan ibu hamil.

“Program ini bekerja sama dengan kader posyandu, bidan desa dan tenaga kesehatan Puskesmas Kecamatan Kurun. Dalam posyandu dilakukan terlebih dahulu imunisasi bayi, pengukuran berat badan balita, tinggi badan, panjang badan, lingkar kepala, lingkar lengan dan pemberian vitamin A untuk bayi berusia di bawah 2 tahun,” ungkapnya.

Kemudian dilanjutkan dengan sosialisasi materi tentang cara pencegahan dan penanggulan stunting oleh tenaga kesehatan dari Puskesmas Kurun, Rikawati, S.KM yang dilakukan pada balai pertemuan desa.

Dalam sesi materi dan tanya jawab, ada beberapa materi yang disampaikan, yakni pengertian stunting, ciri-ciri stunting, penyebab stunting, sasaran dan cara pencegahan stunting dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).

Guna mencegah terjadinya stunting, ada sejumlah upaya yang wajib dilakukan, yaitu ibu hamil disarankan harus makan lebih banyak dari biasanya. Misalkan banyak mengkonsumsi buah dan sayur, serta dilengkapi dengan lauk pauk.

Kemudian mengkonsumsi tablet tambah darah yang dilakukan selama kehamilan dan dilanjutkan sampai dengan masa nifas. Ini dapat mencegah anemia dan menjaga sistem ketahanan tubuh.

Melakukan IMD (Inisiasi Menyusui Dini). Bayi mendapatkan ASI kolostrum yang kaya akan daya tahan tubuh dan ketahanan terhadap infeksi.

ASI Ekslusif 0-6 bulan. Kebutuhan gizi pada bayi usia 0-6 bulan cukup terpenuhi dari ASI saja.

Pemberian ASI hingga 23 bulan didampingi MP-ASI. ASI terus diberikan semau bayi, memasuki 6 bulan bayi perlu mendapatkan Makanan Pendamping ASI.

Dan terakhir adalah perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Jaga kebersihan lingkungan dan rajin mencuci tangan pakai sabun.

Tidak lupa, Kelompok 25 KKN UPR juga menyampaikan saran kepada masyarakat dan juga pemerintah desa serta tenaga kesehatan di Desa Tumbang Manyangan, agar selalu memperhatikan upaya pencegahan dan penanggulangan stunting, agar tetap menjadi desa yang bebas stunting.

“Hal lain yang perlu dilakukan adalah dengan mengadakan penampungan air bersih bagi masyarakat desa sehingga masyarakat tidak lagi kesusahan untuk memperoleh air bersih dan sanitasi. Kepada kader posyandu diharapkan dapat membuat arsip pendataan/survei tentang stunting agar desa memiliki data yang valid,” pungkasnya.(Sebastian) 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: