Anggota Dewan Provinsi Ini Kembangan Cocok Tanam Sistem Hidroponik Rakit Apung

FOTO : Anggota Komisi II DPRD Kalteng, Jainudin Karim SE, saat mengisi waktu luangnya, menyalurkan kegemarannya dengan bercocok tanam.

Beritakalteng.com, PALANGKA RAYA – Sisi lain kehidupan, dari anggota Legislator Jainudin Karim SE, yang ternyata memiliki kegemaran dan hobi, bercocoktanam dan mengembangkan perikanan, dengan memanfaatkan sisa lahan perkarangan yang masih ada, di sekitar lahan yang ada di rumah.

Dimana, saat beberapa bulan lalu, tepatnya sekitar bulan Maret 2020 ini, Ia menyalurkan kegemarannya bercocok tanam. Dikatakan Wakil Rakyat dapil Kalteng II, meliputi Kabupaten Kotawaringin Timur dan Seruyan ini, saat dibincangi BeritaKalteng.com, Rabu (1/7/2020).

“Upaya ini, mulai saya galakan, sejak adanya anjuran pemerintah, terkait, untuk bekerja dari rumah atau work for home (WFH) yang menuntut kita, untuk bisa bekerja dari rumah dan melakukan segala aktivitas dari rumah, secara produktif. Nah, saat itu lah, saya pun mencoba, untuk menyalurkan hobi, serta mengembangkan kegemaran saya bercocok tanam,” Ucapnya.

Lebih lanjut, Legislator dari Fraksi Partai Gerindra ini juga mengutarakan, adapun teknik bercocok tanam, yang dikembangkan, yakni dengan menggunakan teknik hidroponik dengan sistem paket apung.

Adapun varietas tanaman yang dikembangkan, diantaranya adalah salada, sawi, pakcoy, seledri dan sebagainya, yang semuanya varietas organik. Kata Jainudin, kalau pun memang ini nanti menjanjikan, ini akan dikembangkan lagi.

“Memang, untuk biaya pembuatan dan pengolahan media hidroponik ini terbilang cukup mahal, yakni untuk biaya diperlukan, untuk membuat 1 rak hidroponik rakit apung, berkisar Rp. 1,5 juta. Namun, jika itu diseriusi, maka akan cukup menjanjikan,” Katanya menambahkan.

Upaya dikembangkannya ini, dalam skala kecil menengah, sambung Anggota Komisi II Bidang Perekonomian dan Sumber Daya Alam tersebut menjelaskan, ada sekitar 12 rak rakit apung. Yang mana, ada sekitar 500 titik lubang net pot tanam, pada masing-masing raknya.

Sehingga, total untuk keduabelas rak tersebut, jumlah net pot tanamnya, ada sekitar 6.000 hingga 7.000 buah, yang sudah dibudidayakan. Usaha hidrponik ini juga bisa dikembangkan, untuk skala rumah tangga, sesuai dengan kemampuannya masing-masing.

Selain itu, Ungkap Jainudin, manfaat pengembangan cocok tanam, dengan sistem hidroponik rakit apung, juga bisa mendorong ketahanan pangan secara mandiri, terutama untuk konsumsi rumah tangga.

“Bayangkan saja, jika satu kali panen, untuk 6.000 sampai 7.000 net pot sawi atau pakcoy, dengan harga yang sekarang relatif mahal, tapi kita jual dengan harga produsen, yakni untuk pakcoy, harga jualnya, berkisar antara Rp. 14.000 sampai 15.000 sampai konsumen. Hingga saat ini, kami sudah menyalurkan sekitar Rp. 5.000 untuk ikatnya. Dengan harga tersebut, itu akan sangat menguntungkan masyarakat,” Terangnya.

Jainudin menambahkan, pengembangan usaha cocok tanam ini didapatnya secara otodidak, serta beberapa sumber informasi lainnya. Yang mana, secara kebetulan juga, saat ini Ia juga sebagai anggota Komisi II DPRD Kalteng, yang memiliki mitra kerja dengan Dinas Pertanian, maka sesekali juga sering bertukar informasi dengan mitra kerjanya.

Untuk pertanian, Ia juga berinovasi, dengan membuat pestisida sendiri, berbahan organik nabati, yang saat ini juga dipakainya sendiri. Hasilnya sangat bagus, untuk membasmi hama dan sejenisnya, serta tanaman juga menjadi subur.

“Hasil inovasi yang saya temukan ini juga, rencananya akan saya patenkan, yang kemudian disalurkan kepada masyarakat. Ya, harapannya apa yang dilakukan ini, bisa membantu masyarakat, terutama bagi para petani,” Timpalnya.

Tidak hanya menyalurkan hobi bercocok tanam dengan teknik hidroponik rakit apung, Jainudin saat ini, ternyata juga sedang mengembangkan usaha perikanan, yakni dengan memanfaatkan lahan perkarangan, yang masih tersedia.

Adapun jumlah kolam yang dimilikinya, ada sekitar 10 sampai 12 kolam, dengan ukuran yang bervariasi, antara 2×2 meter, 2×4 meter dan 8 x 2 meter. Ikan yang diisi juga cukup bervariasi, ada ikan gurame, lele, patin dan nila.

“Yang pasti, usaha yang saya kembangkan ini, mengingat kedua bidang ini masih cukup menjanjikan, serta di wilayah setempat juga masih sangat jarang dikembangkan, sekaligus pula diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi masyarakat, terutama bagi kalangan milenial,” Tutupnya.(YS/a2)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: