Kuala Kapuas – Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (TPHP) Provinsi Kalimantan Tengah melaksanakan kegiatan Gerakan Pengendalian (Gerdal) Swadaya sebagai langkah cepat untuk menangani serangan penyakit hawar daun pada tanaman padi. Kegiatan ini dipusatkan di Desa Warnasari, Kecamatan Tamban Catur, Kabupaten Kapuas pada Kamis (17/7/2025).
Kepala Dinas TPHP Provinsi Kalimantan Tengah, H. Rendy Lesmana, melalui Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Kalteng, Alpan Samosir, menegaskan bahwa penanganan dini sangat penting dilakukan guna mencegah penurunan produksi padi. Ia menjelaskan bahwa penyakit hawar daun termasuk penyakit yang berpotensi menimbulkan kerugian besar apabila tidak segera dikendalikan.
“Hawar daun merupakan salah satu penyakit yang cukup berbahaya karena dapat menyebabkan turunnya hasil produksi. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Xanthomonas oryzae. Gejalanya muncul berupa bercak hijau kekuningan pada daun yang kemudian berkembang menyebabkan daun mengering hingga mati,” kata Alpan.
Berdasarkan laporan Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Sunyoto, luas pertanaman padi pada Musim Tanam April–September (MT ASEP) 2025 di Kecamatan Tamban Catur mencapai 4.904 hektare. Dari luasan tersebut, 339 hektare berada di Desa Warnasari, dan sekitar 82 hektare terindikasi terserang hawar daun dalam kategori ringan. Meski masih tergolong ringan, dinas menilai perlu langkah cepat agar serangan tidak meluas.
Sebagai wujud penanganan bersama, kegiatan Gerdal dilakukan di lahan milik Kelompok Tani (Poktan) Rowo Subur. Para petani bersama tim teknis melakukan penyemprotan pestisida Sultricop 93 WP, yang dinilai efektif dalam menghambat perkembangan bakteri penyebab hawar daun. Selain itu, Dinas TPHP Provinsi Kalteng juga menyerahkan bantuan pestisida tambahan berupa Sultricop 93 WP serta Topsin M 70 WP untuk mendukung pengendalian lanjutan di lahan yang terdampak.
Kegiatan ini tidak hanya menjadi upaya teknis, tetapi juga sarana edukasi bagi petani agar lebih sigap mengenali gejala awal penyakit dan melakukan pengendalian berbasis rekomendasi teknis. Para petugas berharap sinergi antara dinas dan kelompok tani dapat menjaga stabilitas produksi pangan, khususnya padi, di wilayah Kalimantan Tengah.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut antara lain Kepala Seksi Teknologi Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) Shanty Harini, Kepala Subbagian Tata Usaha Agusenin, serta para POPT Provinsi yang memberikan pendampingan teknis di lapangan.
(tr)
BeritaKalteng.Com Bersama Membangun Kalimantan Tengah