Foto : Kondisi di Buntok, Barsel, Minggu (30/8/2026) sekitar pukul 11.00 WIB, kabut asap semakin pekat dan mengganggu jarak pandang pengendara, bahkan udara ini sudah masuk skala berbahaya mencapai angka skala ISPU 693 PM10.

Barsel Dikepung Karhutla dan Kabut Asap, DPD LPLHN Kalteng Soroti Ketidakhadiran Bupati

Beritakalteng.com, BUNTOK – Plt. Ketua DPD Lembaga Pecinta Lingkungan Hidup Nusantara (LPLHN) Provinsi Kalimantan Tengah, Suldiansyah menyoroti ketidakhadiran Bupati sebagai kepala daerah di tengah masifnya kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Barito Selatan.

Pertanyaan ini disampaikan Suldi, sebagai bentuk keprihatinan karena selama kurang lebih 3 pekan, Bupati Barsel, Eddy Raya Samsuri tidak tampak berada di tempat. Padahal, kondisi daerah sangat membutuhkan sosok kepala daerah di tengah semakin masifnya Karhutla di Bumi Dahani Dahanai Tuntung Tulus itu.

“Kami merasa prihatin, seorang kepala daerah di tengah situasi masyarakat sangat membutuhkan terutama dalam kondisi bencana seperti ini, malah tidak pernah kelihatan berada di tempat,” ucapnya.

Menurut dia, seorang kepala daerah semestinya memiliki rasa empati dan tanggung jawab bagi masyarakat yang dipimpinnya. Kehadiran Bupati sangat dibutuhkan sebagai penyemangat dan memberikan ketenangan di tengah kondisi masyarakat yang sedang gelisah terdampak bencana.

“Masyarakat kita sedang gelisah terkena dampak bencana ini, kehadiran Bupati sangat dibutuhkan menjadi penyemangat dan menjadi orang yang bisa meredam kegelisahan masyarakat itu,” tutur Suldi.

Selain itu, kata Suldi lagi, ketidakhadiran Bupati di tengah darurat bencana, merupakan sebuah sikap tidak patut. Karena akan menyulitkan pengambilan kebijakan di daerah terkait penanganan bencana.

“Ketidakhadiran Bupati akan sangat menyulitkan Instansi terkait dalam mengambil langkah dan keputusan penanganan kedaruratan bencana. Pengambilan keputusan akan berjalan lambat, dan situasi ini sangat merugikan masyarakat,” tukasnya.

Foto : Hingga akhir bulan Agustus 2026, Barsel masuk urutan 3 dengan jumlah kejadian karhutla terbanyak di Kalteng.

 

Suldi menekankan, seharusnya Bupati bisa mengukur skala prioritas, kapan saatnya melakukan perjalanan ke luar daerah dan kapan waktunya hadir di tengah-tengah masyarakat.

Dia bahkan membandingkan dengan Bupati dan Wakil Bupati lainnya, bahkan Gubernur dan Wakil Gubernur bahu-membahu terjun langsung ke lapangan ikut serta dalam penanganan bencana.

“Bupati wajib hadir di tengah masyarakat, terutama di situasi bencana seperti sekarang ini. Tunda dulu perjalanan ke luar kota, karena saat ini yang lebih prioritas adalah penanganan bencana,” tegas dia.

“Coba bandingkan dengan beberapa Bupati dan Wakil Bupati lainnya, dan bahkan Gubernur dan Wakil Gubernur saja tidak ada satupun yang meninggalkan daerah masing-masing di tengah situasi bencana ini,” tandasnya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *