Beritakalteng.com, BUNTOK – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Barito Selatan masih terus terjadi. Hingga 23 Oktober 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat mencatat total luas hutan dan lahan yang terbakar mencapai 1.329,44 hektare.
Dari 316 kejadian, wilayah dengan dampak terparah adalah Kecamatan Dusun Selatan mencapai 852,83 hektare atau sekitar 64,15 persen dari total karhutla di enam kecamatan se-Barsel.
Kepala Pelaksana BPBD Barsel, Agus In’yulius, mengatakan angka tersebut merupakan data kumulatif sejak 1 Januari hingga 23 Oktober 2026. Namun, luas lahan terbakar diperkirakan masih berpotensi bertambah karena tidak seluruh kejadian penanganan karhutla dilaporkan kepada BPBD.
“Data kumulatif hingga 23 Oktober menunjukkan luasan lahan terbakar berada di angka 1.329,44 hektare. Dari jumlah tersebut, Dusun Selatan mencatatkan area terbakar seluas 852,83 hektare,” ungkap Agus di Buntok, Sabtu (24/10/2026).
Besarnya luasan kebakaran tersebut memperlihatkan bahwa Dusun Selatan menjadi titik paling dominan dalam bencana karhutla tahun ini. Sementara itu, lima kecamatan lainnya juga mengalami kebakaran dengan luasan yang bervariasi.
Kecamatan Dusun Hilir dengan 165,71 hektare dari 21 kejadian, disusul Karau Kuala seluas 135,36 hektare dari 44 kejadian. Kecamatan Jenamas mencatat 86,04 hektare dari 50 kejadian, Dusun Utara seluas 74 hektare dari 15 kejadian, sedangkan Gunung Bintang Awai (GBA) mencatat 15,50 hektare dari empat kejadian.
Meski penambahan luas kebakaran harian pada 23 Oktober dilaporkan nihil di sebagian besar kecamatan, BPBD masih mencatat penambahan 1,8 hektare pada hari sebelumnya.
Jika dilihat berdasarkan perkembangan bulanan, situasi karhutla mulai memburuk saat memasuki pertengahan tahun. Pada Januari hingga Juni 2026, luas kebakaran masih relatif rendah, berkisar 1 hingga 6 hektare per bulan.
Namun, kondisi berubah pada Juli ketika luas lahan terbakar meningkat menjadi 49,35 hektare. Puncaknya terjadi pada Agustus dan September dengan luasan masing-masing 480,11 hektare dan 538,90 hektare.
Memasuki Oktober, intensitas kebakaran mulai menunjukkan penurunan. Hingga 23 Oktober, luas lahan terbakar pada bulan tersebut tercatat sekitar 243,975 hektare. Dari jumlah itu, Dusun Selatan kembali mendominasi dengan 201,45 hektare.
Ancaman karhutla tidak hanya terlihat dari luas lahan yang terbakar. Pemantauan satelit selama 1 Januari hingga 23 Oktober 2026 juga mendeteksi 9.802 titik panas atau hotspot di wilayah Barsel.
Dusun Selatan kembali menempati posisi tertinggi dengan 4.275 hotspot atau 43,61 persen dari total titik panas. Berikutnya, Dusun Hilir mencatat 2.750 titik atau 28,06 persen, sedangkan Dusun Utara sebanyak 1.303 titik atau 13,29 persen.
Titik panas lainnya tersebar di Jenamas sebanyak 743 titik, Karau Kuala 452 titik, serta Gunung Bintang Awai sebanyak 279 titik.
Khusus periode 1–23 Oktober 2026, terdeteksi 2.313 hotspot. Bahkan pada Jumat (23/10/2026), masih ditemukan 81 titik panas yang tersebar di Dusun Selatan sebanyak 40 titik, Dusun Hilir 29 titik, Jenamas enam titik, Gunung Bintang Awai empat titik, dan Dusun Utara dua titik.
Agus mengakui, meskipun tren luasan kebakaran dan jumlah titik panas mulai menurun dalam beberapa hari terakhir, kabut asap masih menyelimuti sejumlah wilayah Barsel.
Kondisi tersebut menunjukkan penurunan jumlah titik panas belum tentu langsung diikuti membaiknya kualitas udara maupun jarak pandang di lapangan. Sisa asap dari kebakaran sebelumnya masih berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat dan meningkatkan risiko terhadap keselamatan warga.
Karena itu, BPBD terus melakukan pemantauan terhadap sebaran asap dan titik panas, sekaligus melanjutkan upaya pemadaman di lokasi yang membutuhkan penanganan.
Agus juga mengimbau masyarakat dan seluruh pihak terkait agar meningkatkan kewaspadaan, tidak membuka lahan dengan cara membakar, serta segera melaporkan apabila menemukan indikasi munculnya titik api.
“Kami terus mengimbau seluruh lapisan masyarakat dan pihak terkait untuk memperketat kesiapsiagaan, menghindari aktivitas pembukaan lahan dengan cara dibakar, serta sigap melaporkan potensi kemunculan titik api,” tegasnya.
Besarnya luasan lahan terbakar dan ribuan titik panas yang terdeteksi menjadi peringatan bahwa ancaman karhutla di Barsel belum sepenuhnya berakhir. Upaya pencegahan dan pemadaman perlu terus diperkuat agar kebakaran tidak meluas dan dampak kabut asap terhadap masyarakat dapat ditekan
BeritaKalteng.Com Bersama Membangun Kalimantan Tengah