UPR Gandeng WWF Seminarkan Pengelolaan Hasil Hutan Bukan Kayu di Kalteng

Beritakalteng.com, PALANGKA RAYA- Jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Palangka Raya (Jurusan Kehutanan Faperta UPR), bekerjasama dengan WWF Kalteng, mengadakan kegiatan Workshop Pengelolaan Hutan Lestari, Selasa (19/11) pagi tadi.

Kegiatan yang terlaksana di Aula Rahan, Lantai II Gedung Rektorat UPR ini, menghadirkan sederetan pemateri berkompeten dibidangnya, yakni diantaranya pemateri utama, Rektor UPR Dr Andrie Elia SE MSi, Direktur WWF Indonesia Regional Kalimantan Irwan Gunawan, Dekan Faperta UPR Dr Ir Sosilawaty MP, serta masih banyak lagi pembicara handal dibidangnya masing-masing.

Adapun tema kegiatan ini, yaitu peran kajian ilmiah dalam mewujudkan pengelolaan hutan lestari, dan masyarakat sejahtera melalui pengembangan potensi hasil hutan bukan kayu dan jasa lingkungan.

Dalam kegiatan ini, Rektor UPR Dr Andrie Elia SE MSi menyampaikan materi berkenaan dengan kearifan lokal masyarakat Dayak pada pengelolaan hutan secara berkelanjutan.

Sambung Dr Andrie Elia mengutarakan, masyarakat Dayak sangat bergantung terhadap alam dan lingkungan sekitarnya. Bahkan, itu sudah dilakukan oleh para nenek moyang masyarakat Dayak, sejak ratusan tahun silam.

“Masyarakat Dayak, sejak dari nenek moyangnya dulu telah menjaga dan menghormati alam lingkungan sekitarnya. Dan, tidak mungkin masyarakat Dayak yang merusak lingkungan alam nya sendiri. Karena, sejak dari nenek moyang, masyarakat Dayak telah memiliki pandangan filosofi dalam menjaga tanah, hutan dan lingkungannya.”

“Seperti, adanya situs adat budaya Pupung Pahewan, Kaleka, Tajahan, Tanggiran dan lain sebagainya. Itu sebagai pertanda bahwa masyarakat Dayak sangat menghargai sekaligus menjaga alam, hutan dan lingkungan sekitarnya,” ungkap Dr Andrie Elia saat dibincangi sejumlah awak media.

Timpal Dr Andrie Elia yang juga menjabat sebagai Ketua Harian Dewan Adat Dayak (DAD) Kalteng menuturkan, alam hutan dan lingkungan sekitarnya, memiliki nilai penting bagi masyarakat Dayak.

Selain sebagai tempat hidupnya aneka ragam flora dan fauna, hutan juga memiliki nilai filosofi tersendiri bagi masyarakat Dayak, oleh sebab itu, para nenek moyang masyarakat Dayak sangat menjaga keberlanjutan dan kelestarian lingkungan, dan nilai-nilai itu pun harus tetap dipertahankan hingga pada generasi sekarang ini.

Masih di tempat yang sama, Direktur WWF Indonesia Regional Kalimantan Irwan Gunawan mengapresiasi, atas kerjasama yang terjalin antar WWF Indonesia, Faperta UPR, BPHP wilayah X Palangka Raya, KPHP Katingan Hulu Unit XVII, beserta sejumlah pihak yang telah andil bagian, dalam berbagai kegiatan dan kerjasama.

Baik itu, dalam hal penelitian, kajian dan telaah ilmiah, tentang upaya bersama dalam menjaga dan melestarikan hutan di wilayah Kalteng. Pihaknya juga mengharapkan, agar kerjasama ini kedepannya, dapat terus terjalin, dengan tujuan tetap lestarinya hutan di Kalimantan Tengah ini.

“Selain itu, kami juga berharap, di era revolusi industri 4.0 ini, peranserta kaum milineal, yangmana notabene mereka rata-ratanya adalah para pelajar dan mahasiswa, dalam menjaga alam dan lingkungan sekitarnya, juga dapat semakin nyata.”

“Sehingga, dengan demikian maka tongkat estafet, dalam menjaga alam dan lingkungan, dapat diteruskan oleh para kaum milineal,” kata Direktur WWF Indonesia Regional Kalimantan, dalam sambutannya.

Hal senada disampaikan oleh Dekan Faperta UPR, Dr Ir Sosilawaty MP mengatakan, kerjasama yang terjalin antara UPR dan WWF Indonesia sangatlah positif. Dan, kerjasama ini kedepannya dapat terus berjalan.

Serta, pihaknya juga berharap kerjasama antar WWF dan UPR, tidak hanya pada penelitian saja, melainkan termasuk pula kerjasama jalur beasiswa untuk para dosen, yang ingin melanjutkan studi ke program doktor, yang dihubungkan melalui mitra kerja WWF, baik itu di dalam negeri maupun di luar negeri.

Sebagaimana informasi tambahan, pada kegiatan ini masih banyak lagi pemateri yang memiliki keahlian dalam bidangnya masing-masing. Kegiatan ini, berlangsung selama 2 (dua) hari, yakni mulai hari Selasa tanggal 19 sampaidengan hari Rabu tanggal 20 Nopember 2019, terselenggara di Kota Palangka Raya.

Melalui kegiatan ini, harapannya juga dapat melahirkan rekomendasi bersama, dalam upaya pengelolaan hasil hutan bukan kayu, di wilayah Kalteng sekaligus pula, bentuk langkah menjaga dan melestarikan hutan di wilayah Kalimantan Tengah.(YS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: