Soal Mandau, DPW IHB Kalteng Adakan Diskusi Panel

FOTO : kegiatan Diskusi Panel Budaya Dayak Kalimantan Tengah yang diselenggarankan oleh DPW IHB Kalteng di 99 La Cupole Cafe dan Sportainment, Gedung Batang Garing Lantai III Kota Palangka Raya, Jumat (26/3/2021)

Beritakalteng.com, PALANGKA RAYA – Mandau tidak hanya sebagai senjata tradisional Kalimantan Tengah saja, tapi lebih sebagai Benda Pusaka yang memiliki nilai kesakralan bagi suku Dayak.

Selain benda pusaka, Mandau juga memiliki nilai-nilai filosofi dan makna mendalam, sehingga tidak dapat digunakan secara sembarangan.

Untuk menggali lebih dalam perihal Mandau, Dewan Pimpinan Wilayah Indonesia Hebat Bersatu (DPW IHB) Provinsi Kalimantan Tengah menginisiasi kegiatan Diskusi Panel Budaya Dayak Kalimantan Tengah, Jumat, (26/3/2021).

Dimana kegiatan Diskusi Panel di 99 La Cupole Cafe dan Sportainment, Gedung Batang Garing Lantai III Kota Palangka Raya ini mengangkat tema ‘Peran serta Ormas Dayak Kalteng menjaga, memelihara dan melestarikan Benda Pusaka Dayak Kalimantan Tengah.

Adapun narasumber yang hadiri diantaranya yakni diantaranya Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Tengah Dr. Guntur Talajan, SH., M.Pd, Ketua DKKD Provinsi Kalimantan Tengah Thoeseng T.T. Asang, S.Hut., M.M.,

Sekjen Kerukunan Warga Ot Danum (KW-OD) Provinsi Kalimantan Tengah E.P. Romong, SH., Ketum DPN Gerdayak Indonesia drs. Yansen Binti, MBA dan Kabagops Polresta Palangka Raya Kompol Edi Sutata.

Ketua Panitia kegiatan Diskusi Panel, Syafruddin Pasaribu menyampaikan bahwa kegiatan sekaligus bertujuan untuk menyikapi atau meluruskan sejumlah pernyataan simpang siur di masyarakat, tentang pemaknaan dan penggunaan Benda Pusaka Dayak yakni Mandau.

“berdasarkan pemaparan dari pemateri tadi. Mandau bagi suku Dayak Kalimantan Tengah, tidak sebatas sebagai senjata tradisional, tapi lebih dari pada itu. Mandau adalah Benda Pusaka yang memiliki nilai-nilai filosofi dan makna mendalam, sehingga tidak dapat digunakan secara sembarangan, termasuk pada waktu aksi demo,” kata Syafruddin Pasaribu.

kegiatan Diskusi Panel yang diinisiasi oleh Dewan Pimpinan Wilayah Indonesia Hebat Bersatu (DPW IHB) Provinsi Kalimantan Tengah mendapat apresiasi dari
Ketum DPN Gerdayak Indonesia, Yansen Binti.

“Mandau adalah Senjata atau Benda Pusaka yang memiliki nilai filosofis tinggi, khususnya bagi suku Dayak Kalimantan Tengah. Oleh karena itu, dalam penggunaannya pun tidak bisa digunakan secara sembarangan, termasuk digunakan saat aksi demo,” Kata Yansen.

Setelah melakukan pertemuan dengan Pimpinan Daerah Provinsi Kalimantan Tengah, Lanjut Yansen bahwa Gubernur Kalteng Sugianto Sabran mengatakan dirinya merupakan putra asli suku Dayak yang sangat menjunjung tinggi dan mencintai nilai-nilai kesakralan benda-benda pusaka milik suku Dayak, termasuk Mandau.

Sehingga, diharapkan penggunaan Mandau tidak digunakan secara sembarangan. Hal ini, dimaksudkan untuk tetap menjaga nilai-nilai kesakralan dari Mandau itu sendiri.

Menurutnya, mungkin inilah yang dimaksudkan oleh Gubernur Kalteng pada saat melantik Bupati dan Wakil Bupati Kotawaringin Timur beberapa waktu lalu, yakni Mandau tidak boleh digunakan saat aksi demo.

“Hanya saja, cara komunikasi beliau dinilai oleh masyarakat, masih ada penafsiran yang kurang tepat, sehingga menimbulkan multitafsir dan ketidaktepatan dalam memaknai penyampaian isi pidatonya oleh segelintir masyaraka,”

“saya tegaskan maksud dari gubernur, yakni melarang menggunakan Mandau dalam aksi demo. Tapi, kalau untuk acara-acara ritual adat, pertunjukan kesenian dan kebudayaan, serta melakukan aktivitas berkebun itu sah-sah saja dan masih diperkenankan,” bebernya.

Dilain pihak, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Tengah, Guntur Talajan menyampaikan bahwa Kalimantan Tengah memiliki potensi wisata yang sangat luar biasa.

Berbagai daya tarik wisata yang dapat mengundang wisatawan lokal, nasional maupun mancanegara untuk berkunjung ke wilayah Kalimantan Tengah, salah satunya adalah keberadaan situs-situs sejarah dan peninggalan para leluhur, termasuk benda-benda pusaka seperti Mandau dan Dohong, serta masih ada lagi benda-benda lainnya juga.

“Benda-benda Pusaka tersebut kini disimpan, dijaga, dirawat dan dipelihara secara khusus oleh Unit Pelaksana Tugas (UPT) museum Balanga. Mungkin, para wisatawan yang ingin melihat koleksi benda-benda pusaka Mandau, bisa secara langsung mengunjungi museum Balanga,” katanya.

Mandau juga kerap digunakan dalam acara pertunjukan kesenian suku Dayak Kalimantan Tengah, seperti Tari Mandau yang menggunakan atribut Mandau sebagai pelengkap tari-tarian.

“saat ini, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Tengah bersama-sama DPRD Provinsi Kalimantan Tengah, sedang mempersiapkan 3 (tiga) buah Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) untuk melindungi situs-situs budaya, cagar alam, termasuk benda-benda pusaka asli Kalimantan Tengah. Saat ini sedang berproses dan semoga saja segera rampung,” tutupnya.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: