Beritakalteng.com, PALANGKA RAYA – DPD Gerbang Dayak Provinsi Kalimantan Tengah menyayangkan keputusan juri Festival Budaya Isen Mulang (FBIM) tahun 2025 yang menetapkan arak – arakan dari luar budaya dayak menjadi pemenang karnaval.
Hal ini disampaikan oleh Dedi Punding Ketua DPD Gerbang Dayak Kalimantan Tengah, menurut dia, hal ini sangat tidak masuk akal, karena FBIM merupakan festival budaya dayak dan dikhususkan sebagai wadah promosi kebudayaan daerah Kalimantan Tengah.
Ini merupakan reaksi dia terhadap hasil keputusan juri yang memutuskan tim karnaval panguyuban Bali, panguyuban Minang dan panguyuban Jawa Timur yang menjadi pemenang 1, 2 dan 4 pawai budaya FBIM 2025, mengalahkan tim karnaval DAD Kalteng dan Fordayak Kalteng di posisi 3 dan 6.
“Jadi aneh, kenapa pekan FBIM yang semestinya menjadi ajang atau sarana promosi kebudayaan khas suku Dayak malah menjadi wadah budaya dari daerah lain menjadi juara!” heran dia.

Menurutnya, ini adalah bentuk ketidakprofesionalan panitia penyelenggara kegiatan dan ketidaktegasan pemerintah daerah Kalteng dalam menetapkan apa yang seharusnya menjadi prioritas FBIM.
Lebih lanjut Humas DPD Gerbang Dayak Kalteng Andrianto atau yang akrab disapa “Ojer” menyatakan “Panitianya kami nilai sangat tidak profesional, karena membiarkan juri memberikan penilaian yang seolah – olah mendiskreditkan budaya dayak sehingga harus kalah dari budaya dari daerah lainnya,” imbuh dia menyayangkan.
“Selain itu, kami juga sangat mempertanyakan ketegasan pemerintah daerah Kalteng dalam hal ini, mengapa bisa FBIM yang seharusnya menjadi ajang promosi pariwisata dan kebudayaan daerah, dibiarkan menjadi ajang pertunjukan budaya dari luar daerah?” imbuh dia mempertanyakan.

Sebab contoh dia lagi, sebagaimana pekan kebudayaan di daerah lainnya seperti Bali ada pawai ogoh – ogoh, karapan sapi di Madura, pawai budaya di Jawa Timur, pawai budaya di Jawa Tengah, tidak pernah ada satupun yang namanya mempertunjukkan kebudayaan dari daerah lain.
Karena yang namanya pekan kebudayaan daerah itu adalah sarana untuk mempromosikan kebudayaan dan kepariwisataan asli sebuah daerah, bukan ajang untuk menunjukkan dan mebandingkan ataupun mempertandingkan kebudayaan seluruh Nusantara.
“Namanya saja Festival Budaya Isen Mulang, bukan festival budaya nusantara. Kalau begini kan seolah – olah budaya dayak Kalteng dan kreatifitas para seniman, serta kearifan lokal Kalteng itu lebih rendah dibandingkan kebudayaan dan kearifan dari budaya daerah lain,” sesalnya.
“Jadi tujuan kita mengadakan FBIM itu untuk apa sebenarnya? Apakah hanya sebagai sarana mempertontonkan bahwa orang dari luar daerah lebih baik dibandingkan putra dan putri asli Dayak Kalteng?” tukasnya menambahkan.
BeritaKalteng.Com Bersama Membangun Kalimantan Tengah