Foto : Didukung Kodam XXII/Tambun Bungai dan Kementerian Pertahanan, LII gelar kegiatan bedah buku dan diskusi publik Why Nationals Fail di Palangka Raya, Selasa (17/2/2026).

Dorong Budaya Literasi dan Penguatan Kapasitas Pemuda, LII dan Badko HMI Kalteng Bedah Buku Why Nations Fail

BeritaKalteng.com, PALANGKA RAYA – Langkah Inovasi Indonesia (LII) dan Badan Koordinasi (Badko) Himupunan Mahasiswa Islam (HMI) Kalimantan Tengah, menggandeng sejumlah mahasiswa dan pelajar Sekolah Menengah Atas (SMA) yang ada di Bumi Tambun Bungai melaksanakan kegiatan bedah buku dan diskusi publik Why Nations Fail, secara hybrid di Kodam XXII/Tambun Bungai, Palangka Raya, Selasa (17/2/2026).

Bedah buku Why Nations Fail dan Geopolitik Republik Indonesia ini adalah untuk mengupas Analisis Institusional: Dari Perbandingan Korea hingga Strategi Menghadapi Era Transaksional Trump.

Diterangkan oleh Ketua LII, Hafidz Ridha Try Sjahputra, M.InternatRel., CLMA., CESDGs, kegiatan bedah buku dan diskusi publik ini diselenggarakan sebagai ruang intelektual untuk menggali, memahami, serta mendiskusikan secara kritis gagasan utama dalam buku Why Nations Fail, yang menyoroti pentingnya peran institusi politik dan ekonomi yang inklusif
dalam menentukan kemajuan dan kesejahteraan suatu bangsa.

Buku ini memberikan perspektif komprehensif mengenai bagaimana kualitas tata kelola, kepemimpinan, kebijakan publik, serta partisipasi masyarakat menjadi faktor kunci dalam menciptakan pembangunan yang berkelanjutan dan berkeadilan.

“Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan tidak hanya memahami teori yang disampaikan, tetapi juga mampu merefleksikan relevansinya dalam konteks pembangunan nasional Indonesia saat ini, khususnya dalam upaya memperkuat kapasitas kepemimpinan, inovasi kebijakan, serta kolaborasi lintas sektor untuk menjawab tantangan zaman,” terang dia.

Kegiatan ini juga menjadi bagian dari komitmen LII dalam mendorong budaya literasi strategis, penguatan kapasitas pemuda, serta pengembangan pola pikir kritis dan solutif dalam melihat persoalan kebangsaan.

Melalui forum diskusi ini, LII berupaya menghadirkan ruang dialog yang konstruktif agar lahir gagasan-gagasan inovatif yang dapat berkontribusi bagi pembangunan bangsa.

Selain itu, kehadiran dan keterlibatan Dr. Kris Wijoyo Soepandji selaku Komandan Staf Khusus Menteri Pertahanan bidang Tata Negara, memberikan perspektif strategis mengenai pentingnya tata kelola pemerintahan yang adaptif, inovatif, dan berorientasi pada kepentingan publik.

“Pandangan beliau diharapkan dapat memperkaya diskusi, khususnya dalam mengaitkan konsep-konsep dalam buku dengan praktik kebijakan dan dinamika ketatanegaraan di Indonesia,” tutur pemuda lulusan S2 Master of International Relations Universitas Monash, Australia ini.

Hafidz menyampaikan, bahwa transformasi pembangunan perlu diarahkan dari pola industri yang bersifat ekstraktif menuju sistem yang inklusif.

Menurut dia, pendekatan ekstraktif yang berorientasi pada pemanfaatan sumber daya tanpa distribusi manfaat yang merata berpotensi menimbulkan ketimpangan sosial dan ekonomi.

“Oleh karena itu, diperlukan pergeseran paradigma menuju pembangunan inklusif yang menempatkan partisipasi masyarakat, pemerataan kesempatan, serta penguatan kapasitas sumber daya manusia sebagai prioritas utama,” jelas founder Kalteng Maju Festival (Kamufest) ini.

Ia juga menekankan, bahwa sistem inklusif tidak hanya berfokus pada pertumbuhan ekonomi semata, tetapi juga pada bagaimana institusi dan kebijakan mampu memberikan ruang yang adil bagi seluruh lapisan masyarakat untuk berkontribusi dan merasakan manfaat pembangunan secara berkelanjutan.

Pandangan ini, dijelaskan pemuda yang pernah menjadi delegasi pemuda antar negara, Singapore Indonesia Youth Leaders Exchange Program tahun 2021, Director of Strategis Studies Indonesian Student Association di Australia itu, sejalan dengan gagasan dalam buku Why Nations Fail yang menekankan pentingnya institusi inklusif sebagai fondasi kemajuan suatu bangsa.

Dengan terselenggaranya kegiatan ini, diharapkan tercipta pemahaman yang lebih mendalam mengenai pentingnya membangun institusi yang kuat, kepemimpinan yang berintegritas, serta ekosistem inovasi yang mampu mendorong kemajuan bangsa.

“Kegiatan ini juga menjadi momentum untuk memperkuat sinergi antara pemuda, akademisi, praktisi, dan pemangku kebijakan dalam merumuskan langkah nyata menuju Indonesia yang lebih inklusif, maju, dan berdaya saing,” tandas Hafidz.

Kegiatan ini terselenggara berkat dukungan penuh oleh Komandan Staf Khusus Menteri Pertahanan bidang Tata Negara, Dr. Kris Wijoyo Soepanji dan Pangdam XXII/Tambun Bungai, Mayjen TNI Zainul Arifin.

Turut hadir sebagai pembicara adalah Dr. Ali Sibram Dosen Universitas Islam Nasional (UIN) Palangka Raya, Ketua Badko HMI Kalteng, Restu Ronggo. W dan Ketua Senat Mahasiswa (Sema) UIN Palangka Raya, Yuyun Sanjaya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *