Foto : Untuk pertama kalinya dalam sejarah ratusan tahun berdirinya desa Bipak Kali, Kecamatan GBA, Barsel mengalami banjir bandang, diduga merupakan dampak semakin meluasnya deforestasi hutan akibat aktivitas tambang batu bara dan pembalakan liar di wilayah hulu.

Pertama Dalam Sejarah Desa Bipak Kali Diterjang Banjir, Dampak Deforestasi Atau Cuaca Ekstrem?

Beritakalteng.com, BUNTOK – Pertama kali dalam sejarah Desa Bipak Kali, Kecamatan Gunung Bintang Awai (GBA), Kabupaten Barito Selatan direndam banjir besar, apakah ini adalah merupakan dampak deforestasi hutan atau karena ekstremnya cuaca di penghujung tahun 2025?

Berdasarkan informasi yang diterima dari salah satu warga desa Bipak Kali yang terkena banjir bandang tersebut, Supardianto, ketinggian air bahkan mencapai 1 meter.

“Ketinggian air mencapai 40 centimeter, bahkan ada yang sampai 1 meter di bagian sebelah hilir sungai. Rumah – rumah yang berada di tepian sungai juga sempat terendam, termasuk rumah saya,” ungkap dia, Sabtu (27/12/2025).

Diungkapkannya, ini merupakan dampak dari luapan sungai Kali dan sungai Rahan akibat hujan deras yang terjadi sepanjang malam kemaren.

Namun, beber Supardianto lagi, kondisi ini diduga merupakan dampak dari adanya deforestasi hutan secara besar – besaran di wilayah hulu sungai, oleh aktivitas pertambangan. Pasalnya, diakui dia, sepanjang hidupnya belum pernah di wilayah tersebut terjadi banjir meskipun hujan deras berhari – hari, sebelum adanya perusahaan tambang batu bara yang masuk.

“Belum pernah bang, sejak aku tinggal di rumah itu, baru sekarang ada banjir,” tuturnya.

Senada dengan Supardianto, Kepala Desa Bipak Kali, Rabiono mengakui bahwa peristiwa ini adalah hal baru dan belum pernah terjadi sebelumnya.

“Baru ini, tapi banjirnya hanya sebentar dan saat ini kondisinya sudah surut. Mungkin karena curah hujannya deras sehingga sungai Kali meluap,” jawab Kades melalui pesan singkat.

Menurut dia, kondisi ini bisa jadi merupakan dampak dari adanya aktivitas sejumlah perusahaan pertambangan batu bara yang berada di hulu sungai.

“Kemungkinan ini oleh adanya tambang di atas sana (hulu sungai),” duga Rabiono.

Dia berharap, agar semua pemangku kebijakan bisa memperketat pengawasan dan melakukan peninjauan ulang terhadap sejumlah perizinan pertambangan yang telah diterbitkan.

Sebab, apabila hal ini dibiarkan, maka dikhawatirkan beresiko menimbulkan bencana yang lebih besar dan membahayakan masyarakat.

Kekhawatiran ini diperkuat dengan adanya prakiraan cuaca yang dirilis oleh Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Sanggu, yakni adanya ancaman cuaca ekstrim berupa angin kencang disertai dengan curah hujan tinggi.

“Nah ini hasil analisis curah hujan dari tanggal 26/12/2025 pkl. 07.00 WIB s.d tanggal. 27/12/2025 pukul 06.00 WIB. GBA dan Dusun Utara curah hujan kategori lebat,” ungkap prakirawan BMKG Sanggu, Taufiq.

menerangkan, bahwa berdasarkan analisis kondisi atmosfer, saat ini suhu muka laut cukup hangat, sehingga berpotensi tingkat penguapan cukup tinggi.

Selain itu, pola arus angin : adanya daerah konvergensi mengindikasikan pengumpulan masa udara di wilayah kabupaten Barsel.

Kemudian, kondisi atmosfer di wilayah Barsel saat ini tidak stabil/labil, mengindikasikan pertumbukan awan-awan konvektif di wilayah tersebut cukup signifikan

“Kabupaten Barito Selatan saat ini memasuki musim transisi dari musim kemarau ke musim hujan sehingga kondisi atmosfer di wilayah Barsel labil yang memicu pertumbuhan awan-awan konvektif di wilayah tersebut,” terangnya.

“Dihimbau kepada masyarakat untuk tetap waspada terkait kondisi tersebut karena secara umum kejadian cuaca ekstrim (hujan sedang-lebat disertai angin kencang/puting beliung, petir, hujan es,) cukup intens dimusim transisi seperti sekarang,” pesan dia.

Untuk diketahui, Kecamatan GBA merupakan dataran tinggi di Barsel, yang mana sebagian besar wilayahnya telah digarap secara besar-besaran oleh sejumlah perusahaan tambang batu bara.

Tercatat ada puluhan perusahaan yang kini aktif melakukan aktivitas pertambangan di atas puluhan ribu hektare lahan di wilayah GBA. Parahnya lokasi tambang – tambang tersebut adalah berada di wilayah dataran paling tinggi dan merupakan hulu sungai, mengalir ke desa – desa yang berada di sepanjang puluhan anak sungai Barito, seperti sungai Kali, Rahan, Sungai Ayuh, Sungai Singan dan lainnya.

Bahkan lebih parahnya lagi, berdasarkan surat Menteri Keputusan Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup (LHK) RI Nomor : SK.01/MENLHK/SETJEN/KUM.1/1/2022 Tentang Pencabutan Izin Konsesi Kawasan Hutan dan Surat Peringatan dari Kementerian LHK Nomor : S.993/PKTL/REN/PLA.0/9/2023 Tentang Peringatan Atas Pemenuhan Kewajiban Penanaman Dalam Rangka Rehabilitasi DAS Oleh Para Pemegang PPKH, sebenarnya beberapa perusahaan tambang tersebut telah dicabut perizinannya pada tahun 2022 lalu, serta sebagian lagi mendapat peringatan karena belum melakukan mewajiban rehabilitas DAS sebelum melaksankan aktivitas pertambangan.

Dilansir oleh Global Forest Watch (GFW), Kerusakan hutan di Kalimantan Tengah (Kalteng) sangat signifikan, dengan data menunjukkan kehilangan hutan alam mencapai sekitar 2 juta hektare antara tahun 2000-2024 akibat konversi ke perkebunan sawit, tambang, dan Hutan Tanaman Industri (HTI), menyebabkan masalah lingkungan seperti banjir dan emisi karbon, meskipun ada upaya rehabilitasi yang terus dilakukan. Data terbaru menunjukkan Kalteng menjadi salah satu penyumbang deforestasi nasional di tahun 2024, dengan luas kehilangan sekitar 33 ribu hektare, dan potensi deforestasi lanjutan masih membayangi dari izin-izin perusahaan yang ada.

Data Kunci Kerusakan Hutan Kalteng:

Periode 2000-2024: Kehilangan hutan alam mencapai sekitar 2 juta hektare (dari sekitar 12 juta hektare menjadi 10 juta hektare).

Tahun 2000-2019: Hutan alam menyusut dari 10.145.383 hektare menjadi 8.235.186 hektare, dengan deforestasi terluas di tahun 2016 (215.154 ha) dan 2007 (194.445 ha).

Tahun 2024: Kalimantan Tengah berada di posisi ketiga nasional deforestasi, dengan kehilangan sekitar 33.000 hektare hutan alam.

Penyebab Utama: Perkebunan sawit, pertambangan, dan Hutan Tanaman Industri (HTI) menjadi kontributor utama konversi lahan.

Dampak: Peningkatan risiko bencana seperti banjir yang terjadi setiap tahun, serta ancaman kepunahan spesies langka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *