Beritakalteng.com, BUNTOK – Yayasan Ranu Welum yang memiliki program konservasi hutan dan kayu ulin di wilayah Desa Talekoi, Kecamatan Dusun Utara, Kabupaten Barito Selatan mendapatkan penghargaan ekuator (Equator Prize) dari United Nations Development Programme (UNDP) Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB).
Penghargaan yang dilaksanakan secara berkala setiap dua tahun sekali itu, diserahkan kepada Ranu Welum Foundation (RWF) secara daring pada Kamis (11/12/2025).
Equator Prize merupakan penghargaan kepada komunitas adat dan lokal yang punya solusi inovatif berbasis alam untuk mengatasi isu keanekaragaman hayati dan perubahan iklim sambil mengurangi kemiskinan.
Ini adalah sebuah kebanggan bagi masyarakat adat Dayak di Kalimantan Tengah khususnya, karena salah satu komunitas yang ada di Bumi Tambun Bungai bisa meraih sebuah penghargaan bergengsi yang diberikan oleh UNDP atas upaya inisiatif dalam menunjukkan dan mencontohkan Sustainable Development.
RWF terpilih sebagai pemenang di antara sepuluh penerima penghargaan ekuator 2025, yang dipilih lebih dari 700 nominasi yang mencakup 103 negara di seluruh dunia.
Penghargaan ini menegaskan dedikasi RWF terhadap hak-hak masyarakat adat, pelestarian budaya, dan integritas lingkungan. Equator Prize memberikan
pengakuan atas pendekatan inovatif RWF dalam memanfaatkan pengetahuan lokal dan mobilisasi pemuda adat untuk mengatasi tantangan ekologis yang mendesak.

Penghargaan ini menyoroti 3 program unggulan RWF, yakni :
1). Youth Act Kalimantan yang melatih dan memobilisasi pemuda lokal sebagai pejuang lingkungan, untuk merestorasi dan melindungi hutan dengan menggunakan teknologi/inovasi yang dipadukan dengan praktik-praktik tradisional;
2). Haze Shelter, sebuah inovasi dari Ranu Welum dan Big Red Button untuk mengurangi risiko polusi kabut asap, membantu anak-anak, perempuan, lansia, penyandang disabilitas, dan kelompok rentan lainnya selama musim kebakaran;
3). Festival Film Adat Kalimantan yang menyediakan wadah bagi para pendongeng Adat untuk berbagi suara mereka kepada dunia.
Pendiri RWF, Emmanuela Shinta, menyatakan, “Kami sangat bersyukur bisa menerima Equator Prize. Penghargaan ini mencerminkan upaya kolektif tim
dan relawan, komunitas, dan semangat inspiratif masyarakat Dayak,” tuturnya.
Ditekankan Emmanuela, pengakuan ini memampukan RWF untuk melanjutkan perjuangan, karena suara mereka telah didengar oleh dunia.
“Kesuksesan RWF tidak akan mungkin tercapai tanpa dukungan dari para donatur dan mitra yang memiliki visi serupa dan percaya pada apa yang kami kerjakan,” ucap gadis Dayak Ma’anyan ini.
“Terima kasih atas setiap kontribusi. Komitmen Saudara yang telah mendorong inisiatif ini untuk terus berlanjut dan menginspirasi kami, untuk membuat perbedaan nyata dalam kehidupan masyarakat Dayak dan bumi Kalimantan,” sambung Emma lagi.
Diakui dia, sembari merayakan tonggak sejarah ini, RWF juga mempersiapkan rencana untuk masa mendatang.
Penghargaan ini memotivasi RWF untuk memperluas upaya dan memanfaatkan program yang telah ada untuk meningkatkan kemampuan adaptasi dan mitigasi masyarakat adat terhadap perubahan iklim dan pengelolaan ekologi menurut kearifan lokal; seperti The Heartland Project (restorasi lanskap), Dayak Academy & Cultural Center (pendidikan masyarakat adat), dan ii-Seed Box, program hibah mini bagi inisiatif pemuda adat.
“Kami mengundang semua mitra saat ini dan calon mitra untuk bergabung dalam meningkatkan dampak dan menjelajahi batas-batas baru dalam aksi iklim, pelestarian budaya serta perjuangan hak masyarakat adat,” ajak perempuan yang aktif menjadi pembicara di PBB ini.
“Terima kasih telah menjadi bagian penting dari perjalanan ini!” pungkasnya.
BeritaKalteng.Com Bersama Membangun Kalimantan Tengah