Dinkes Kalteng Waspadai Penyebaran HIV di Wilayah Padat Penduduk

Palangka Raya, Beritakalteng.com

Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi Kalimantan Tengah, Saidah Suryani menjelaskan bahwa Indonesia termasuk salah satu negara di Asia dengan laju pertumbuhan epidemik HIV tercepat, menurut laporan UNAIDS. Hal ini disebabkan oleh peningkatan infeksi baru, khususnya di kalangan kelompok rentan, serta rendahnya kesadaran dan akses terhadap pengobatan.

“Penyebaran HIV-AIDS adalah masalah kesehatan dan sosial yang memicu kekhawatiran publik, seringkali menimbulkan stigma serta diskriminasi terhadap mereka yang hidup dengan HIV-AIDS,”ucapnya. Kamis (14/11/2024)

Dia juga menuturkan bahwa Kasus HIV-AIDS di Kalimantan Tengah terus meningkat sejak pertama kali ditemukan pada 1987. Dalam 5 tahun terakhir, tercatat 2.722 kasus kumulatif, dengan 1.736 kasus HIV dan 986 kasus AIDS.

“Sebaran kasus HIV-AIDS di Kalimantan Tengah terutama terkonsentrasi di Palangka Raya, Kotawaringin Timur, dan Kotawaringin Barat, didukung oleh fasilitas rujukan dan tenaga pendamping ODHIV di Palangka Raya,”ujar dia.

Dia juga mengakui bahwa fenomena terkini menunjukkan pergeseran kasus HIV-AIDS di Indonesia, yang sebelumnya banyak terjadi pada pekerja seks, kini juga meluas ke ibu rumah tangga dan bayi. Sejak 2016-2018, peningkatan signifikan pada ibu rumah tangga mencerminkan perubahan pola penularan HIV, dari kelompok berisiko tinggi ke masyarakat umum.

“Pada 2019, kasus HIV-AIDS tertinggi di Indonesia tercatat di kelompok LSL. Di Palangka Raya pada 2022, kasus tertinggi berdasarkan pekerjaan adalah ASN/TNI-POLRI, mahasiswa, dan karyawan swasta. Strategi Nasional Penanggulangan HIV-AIDS menekankan pentingnya kolaborasi antara masyarakat dan pemerintah dalam penanggulangan kasus ini,”ungkapnya.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Kesehatan Kalteng Rainer Danny P. Mamahit menjelaskan bahwa Dinkes Provinsi mengambil langkah awal dengan sosialisasi dan bekerja sama dengan media elektronik serta cetak untuk mencegah penyebaran HIV di Kalteng yang keluar masuk tanpa terkendali ke berbagai daerah.

“Kalau kami berupaya bekerja sama dengan media elektronik dan cetak untuk menyebarkan informasi hingga ke pelosok Kalteng, agar masyarakat memahami dampak HIV,”

Dia juga mengakui bahwa pergerakan HIV perlu diwaspadai karena bisa menyebar tanpa terdeteksi melalui alat, serta wilayah padat penduduk berisiko menjadi area persebaran yang masif dan perlu perhatian khusus.

“Dari temuan yang ada, persebaran HIV di daerah padat penduduk bisa lebih tinggi karena mobilitas masyarakat. Di Kabupaten Kapuas, meskipun penduduknya banyak, situasi masih terkendali. Penting untuk memastikan alat-alat seperti untuk tindik atau tato selalu steril,” tutupnya Rainer. (Ngel)

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *